oleh

Rasulullah, Sosok Pemimpin Perubahan

SiaranJabodetabek.com– Salah seorang inteketual Iran, Ali Syari’ati menyebutkan dalam bukunya “On The Sociology of Islam”, bahwa ada lima faktor yang paling menetukan kepribadian seseorang. Pertama, ibu yang merupakan pendidik awal sebagai membentuk struktur dasar kepribadian seseorang. Kedua, ayah yang mempengaruhi pertumbuhan kepribadian yang telah ditanam oleh ibu. Ketiga, sekolah yang membentuk kepribadian yang lebih lahiriah. Keempat, masyarakat di sekitarnya. Kelima, kebudayaan umum baik lokal maupun global.

Dalam kehidupan Rasulullah, tidak satupun dari kelima faktor tersebut yang berpengaruh secara dominan atas kepribadian beliau. Sebagai pemimpin perubahan masa depan, sepertinya Rasulullah bebas dari sentuhan selera zaman dan lingkungan. Sebab, kehadiran Rasulullah memang “dipersiapkan” untuk menghancurkan peradaban jahiliah saat itu sedang berkembang. Syari’ati menegaskan: “Andaikata beliau sempat tumbuh dalam salah satu acuan (lingkungan) demikian, tentulah beliau tidak akan pernah berhasil melaksanakan tugas beliau.”

Rasulullah dilahirkan dalam keadaan yatim. Meskipun beliau mempunyai ibu, tetapi sejak lahir beliau sudah diasuh dan disususi oleh Halimatussa’diyah yang tinggal di desa. Setelah berumur dua tahun, beliau kembali ke kota dan tinggal bersama ibunya. Namun tidak berlangsung lama, ibunya wafat.

Begitu pula saat remaja, beliau dipisahkan dari lingkungan sekitar ketika beliau harus ke gurun untuk menggembalakan ternak. Beliau juga tidak bisa membaca dan menulis (ummi), sehingga pengaruh lembaga pendidikan dan kebudayaan umum juga tidak sampai membekas dalam diri beliau.

Rasulullah yang memang sudah dipersiapkan Allah untuk menjadi pemimpin paripurna, bebas dari pengaruh lingkungan, termasuk pengaruh dari ayah dan bundanya. Sebagai calon pemimpin perubahan masa depan, sejak lahir, menginjak remaja dan dewasa, beliau bebas dari pengaruh zamannya. Suatu kondisi yang “sengaja” Allah ciptakan bagi lahirnya sosok pemimpin perubahan masa depan.
“Jiwa yang ditakdirkan untuk memikul dan melaksanakan tugas luar biasa, tidak bisa dibentuk menurut bentuk biasa”.

(Asri Al Jufri)