oleh

Ulama Imam Al-Suyuthi

Sebagai umat islam menjalankan kewajiban mengikuti jejak langkah Nabi SAW Yaitu dengan
meneladani kehidupan Nabi saw baik dalam
masalah-masalah peribadatan, muamalah, dan
akhlak. Serta sudah jamak diketahui bahwa seluruh
umat Islam yang ada di muka bumi ini berlomba-
lomba untuk menjadi yang terdepan dalam
menyontoh Nabi saw.

Dan tentu saja golongan para ulama-lah yang
paling mirip dengan kehidupan Nabi saw. Sebagai
sebuah perumpamaan, jika umat ini adalah satu
rombongan besar yang berjalan mengikuti Nabi
saw, maka bisa dipastikan bahwa orang-orang yang
berada di shof paling depan adalah mereka para
ulama. Oleh karena itu hingga Nabi saw bersabda,
“Para ulama adalah ahli waris para nabi.”

Ya, dari para ulama-lah kita mengenal Allah swt
dan Nabi-Nya saw. Maka bagian dari adab yang
luhur dan bentuk terima kasih kita kepada mereka,
kita juga perlu mengenal para ulama itu. Mulai dari
nama, tempat, tahun kelahiran dan wafatnya, juga
karya dan kontribusi mereka dalam membangun
peradaban Islam ini.

Yuk kenali salah satu sosok ulama!

Imam as-Suyuthi

Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin
Kamal bin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin
bin Bakr Utsman bin Nadziruddin al-Himam al-
Khudhairi as-Suyuthi al-Mishri as-Syafi’i. Laqab
beliau adalah Jalaludin as-Suyuthi sedangkan
kunyah-nya adalah Abu Fadhl.

Beliau lahir di sebuah daerah bernama Asyut di
negri Mesir pada malam Ahad bulan Rajab tahun
849 H. Imam as-Suyuthi tumbuh dalam keadaan
yatim. Ayahnya wafat pada saat usia Imam as-
Suyuthi belum genap enam tahun. Di masa kecilnya
as-Suyuthi mendapat julukan Ibnul Kitab (anak
buku), yaitu tatkala Ibunya hamil besar, Ayahnya
memintanya mengambilkan beberapa kitab di
perpustakaan pribadinya. Ketika ingin mengambil
buku-buku itulah tetiba Ibunya merasa hendak
melahirkan, dan akhirnya bayi mungil as-Suyuthi
lahir diantara kitab-kitab di perpustakaan Ayahnya.

Az-Zirikli menyebut bahwa Imam as-Suyuthi
adalah seorang imam besar, ahli hadis, sejarawan
ulung sekaligus pakar bahasa dan seorang penulis yang produktif

Imam Suyuthi dianugrahi oleh Allah swt keluasan ilmu dalam tujuh bidang ilmu keagamaan yang
berbeda, yaitu ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih,
ilmu nahwu, ilmu ma’ani, ilmu bayan dan ilmu badi’.

Bahkan beliau begitu percaya diri mengunggulkan
dirinya dihadapan khalayak ramai, beliau berkata,
“Sesungguhnya penguasaanku terhadap ketujuh
ilmu ini belum ada yang menandingi bahkan dari
kalangan guru-guruku, kecuali ilmu fiqih dan ilmu
riwayat”

Dalam bidang hadis beliau berkata mengenai
dirinya sendiri, “Aku hafal dua ratus ribu hadis. Jika
masih ada selainnya, pasti aku akan hafal juga. Dan
sekiranya -di zaman ini- tidak ada yang
menandingiku dalam hal tersebut.”

Imam as-Suyuthi berguru kepada sekitar 150
syaikh. Beliau menyimak dan mendapat ijazah dari
guru-gurunya.

Ketika Imam as-Suyuthi berusia 40 tahun beliau
memilih menyendiri dan meninggalkan semua
aktifitasnya, baik mengajar dan berfatwa. Beliau
memfokuskan diri untuk beribadah dan menulis
buku. Hasilnya,
dalam rentang waktu 22 tahun beliau mampu
menulis buku yang dalam hitungan az-Zirikli
mencapai angka 600 kitab, baik yang tebal maupun risalah-risalah singkat. Karya-karya beliau
mencakup ke berbagai cabang ilmu, mulai dari
aqidah, ushul, fiqih, tafsir, hadist, sejarah, bahasa
Arab, dsb.

Ketertarikan Imam as-Suyuthi kepada Al-Quran
dan segala ilmu yang berkaitan dengannya begitu
besar. Imam as-Suyuthi berpendapat bahwa Al-
Quran ialah sumber mata air segala ilmu. Jika ilmu
diibaratkan matahari, maka Al-Quran adalah garis
edar dan tempat terbitnya.

Perhatiannya kepada Ulum Al-Quran semakin
terlihat dari rasa heran dan keprihatinannya melihat
belum ada satupun dari para ulama terdahulu yang
menulis dan merangkum Ulum Al-Quran ini ke
dalam satu kitab khusus sebagaimana perhatian
mereka terhadap Ulum al-Hadis, beliau berkata
dalam muqoddimah kitabnya:
ي زمان الطلب أتعجب من المتقدم ي

ولقد كنت ف إذ لم
أنواع علوم القرآن كما وضعوا ذلك بالنسبة
ي
يدونوا كتابا ف
إىل علم الحديث
“Dahulu ketika saya masih berguru, saya merasa
heran kepada ulama-ulama terdahulu, mengapa
tidak ada di antara mereka yang menyusun
sebuah kitab tentang ilmu-ilmu Al-Qur’an
sebagaimana mereka menyusun ilmu-ilmu dalam
bidang hadits?”

Kemudian beliau mendengar bahwa gurunya
yaitu Syekh Muhyiddin al-Kafiji telah menyusun
sebuah kitab yang merangkum ilmu-ilmu Al-Qur’an.
Imam as-Suyuthi menyimak dan menulis ulang kitab
tersebut. Namun ternyata beliau mendapati bahwa
kitab tersebut sangat tipis karena hanya terdiri dari
dua bab pembahasan. Bab pertama berisi tentang
definisi tafsir, takwil Al-Qur’an, surat dan ayat. Bab
kedua membahas tentang syarat-syarat menafsirkan
Al-Qur’an dengan akal pikiran, dan diakhiri dengan
adab-adab dalam belajar dan mengajar al-Qur’an.

Dengan menulis kitab seperti ini beliau berharap
menjadi orang pertama dan satu-satunya yang
secara lengkap dan rinci membahas ilmu-ilmu Al-
Qur’an, beliau berkata:
وأنا أظن أني متفرد بذلك غير مسبوق بالخوض في هذه المسالك
“Saya mengira bahwa sayalah orang pertama dan
satu-satunya yang menulis Ulum Al-Quran dengan
pembahasan yang mendalam”

Belumlah Imam as-Suyuthi merealisasikan
rencana besarnya itu, beliau mendapat kabar bahwa
sudah ada seorang alim yang menulis kitab dengan
tema yang sama dengan cukup komprehensif.

Kitab tersebut adalah kitab al-Burhan fii Ulum al-
Qur’an, karangan Syekh al-Imam Badruddin
Muhammad bin Abdullah az-Zarkasyi. Kitab ini
terdiri dari 47 bahasan, semuanya terkait dengan
ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an.

Imam as-Suyuthi kemudian menulis kitab yang diberi
nama al-Itqan fii Ulum Al-Qur’an. Beliau
mengatakan,
ولما وقفت عىل هذا الكتاب ازددت به رسورا وحمدت هللا
ي
كث يا وقوي العزم عىل إبراز ما أضمرته وشددت الحزم ف
يىل
إنشاء التصنيف الذي قصدته فوضعت هذا الكتاب الع
الشأن الج يىل هان الكث ي الفوائد واإلتقان ورتبت أنواعه
ي
ترتيبا أنسب من ترتيب ال يهان وأدمجت بعض األنواع ف
بعض وفصلت ما حقه أن يبان وزدته عىل ما فيه من الفوائد
والفرائد والقواعد والشوارد ما يشنف اآلذان وسميته
كل نوع منه إن شاء هللا
ي
ى ف
ي علوم القرآن وسي ر
باإلتقان ف
ما يصلح أن يكون بالتصنيف مفردا وسي ر تعاىل وى من
مناهله العذبة ريا ال ظمأ بعده أبدا
“Setelah aku selesai membaca kitab al-Burhan,
bertambahlah rasa bahagia dan syukurku kepada
Allah swt. Bertambah kuat pula azamku untuk
mengeluarkan apa yang selama ini aku pendam.
Aku pun menguatkan tekad untuk menulis kitab
yang dulu telah aku niatkan. Maka mulailah aku
menyusun kitab, kitab yang sangat penting, yang
memberi penjelasan, yang memiliki banyak faidah.
Aku susun kitab ini dengan susunan yang lebih
baik daripada susunan kitab al-Burhan, aku
gabungkan beberapa masalah kedalam sebagian
masalah lainnya, aku jabarkan yang sekiranya perlu
penjabaran, aku tambahkan di dalamnya banyak
faidah, hal-hal penting, kaidah-kaidah dan hal-hal
unik yang masih asing di telinga.
Aku namai kitab ini dengan kitab al-Itqan fii Ulum
al-Qur’an, kamu akan dapati dalam setiap
pembahasannya layak untuk dikatakan “tiada
duanya” insya Allah.

Akhirnya Imam as-Suyuthi mulai menulis kitab al-
Itqan ini dengan memohon bantuan kepada Allah
Subhanahu Wa Ta’ala. Kitab ini terdiri dari 80 objek
bahasan, yang mana setiap objek pembahasan
dalam kitab ini menjadi ilmu tersendiri yang belum
tentu cukup dibahas dalam satu kitab khusus. Kitab
al-Itqan ini menjadi salah satu referensi utama
dalam pembahasan Ulum Al-Quran sampai hari ini.

Imam as-Suyuthi wafat dalam keadaan beliau
yang sedang fokus menulis kitab, setelah sakit
selama tujuh hari dan bengkak pada tangan
kirinya semakin parah maka pada hari kamis
tanggal 19 Jumadil Ula tahun 911 H dalam
usia 62 tahun, Imam as-Suyuthi
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Jasad beliau dimakamkan di pemakaman
Husy Qosun di Mesir.

Wallahu a’lam bisshawab

Sumber: buku (“Mengenal Imam Al- Suyuthi” penulis Wildan Jauhari, Lc)