oleh

Jembatani UKM Raih Pasar Mancanegara, Artajasa Gelar Webinar Utilizing Technology to Empower Indonesia’s SME

Siaranjabodetabek.com- Artajasa, sebagai pionir pasar transaksi elektronis Indonesia menggelar webinar Empowering UMKM Indonesia seri kedua bertajuk “Utilizing Technology to Empower Indonesia’s SME” pada Senin, 6 September 2021 lewat platform Zoom. Sebagai narasumber, acara ini dihadiri oleh Filianingsih Hendarta selaku Asisten Gubernur/Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Widjayanto Djaenudin selaku Chief Operation Officer LinkAja, dan Teddy Sis Herdianto selaku Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Artajasa. Webinar ini dihadiri sekitar 200 peserta lintas sektoral di seluruh Indonesia.

Filianingsih mengungkap adanya potensi UKM Indonesia menuju pangsa pasar global yang cukup tinggi “Pertumbuhan transaksi digital dari tahun 2019-2020 bahkan disaat pandemi, bukan hanya itu adanya pemain-pemain baru seperti e-commerce, uang elektronik, dan QRIS yang bertumbuh pesat penggunaannya. Pemain besar jika ingin transformasi juga harus memulai digitalisasi supaya tidak left behind.”, pungkas Filianingsih pada sesi Entering the Global Market through E-Commerce yang dilaksanakan secara virtual melalui kanal Zoom (6/9/2021).

Pihaknya juga mengungkap transaksi digital banking terus tumbuh di triwulan dua tahun ini, mencapai 9,7 triliun atau meningkat sekitar 57% year on year. Demikian juga dengan uang elektronik yang mencapai 70,7 triliun atau pertumbuhannya sekitar 48%.

Sementara QRIS (Quick Response Indonesian Standard) meningkat secara signifikan tahun ini mencapai 5,6 triliun atau tumbuh sekitar 366%, yang saat ini mencapai 9,4 juta merchant.

Tak dipungkiri penggunaan aplikasi dompet digital turut menjadi solusi mutakhir para UKM untuk memudahkan transaksi jual belinya, Artajasa menghadirkan Widjayanto Djanudin, Chief Operation Officer LinkAja, yang menegaskan pentingnya digitalisasi bagi kelangsungan dan perluasan bisnis UMKM di Indonesia disinyalir dari banyak sekali keuntungan dalam pelaksanaan digitalisasi. Saat ini Link Aja fokus ke segmen menengah dan UMKM, kota-kota tier 2 dan 3. Link Aja juga telah mengoperasikan Link Aja Syariah dalam mendukung ekonomi syariah di Indonesia.

“Saat ini, terdapat 13,7 juta UMKM telah menggunakan platform digital. Tantangan yang saat ini sedang dihadapi UMKM Indonesia saat ini diindikasi adanya keterbatasan akses terhadap informasi, layanan keuangan, peluang usaha baru, dan terhadap permodalan dimana solusi digital harus mampu memberikan manfaat dari keterbatasan yang ada. , tegas Widjayanto.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Teddy Sis Herdianto mengulas peran Artajasa dalam mendukung digitalisasi secara aman dan pentingnya kelihaian dan keamanan dalam digitalisasi untuk kelompok menengah dan UMKM untuk menunjang perluasan pasar dari

nasional ke global, “Peluang yang ada terkait Go Digital selain perluasan pasar yaitu juga meningkatkan efisiensi & kemudahan dalam menjalankan bisnis beriringan dengan adanya tantangan dalam menguasai digitalisasi secara seksama supaya dampak digitalisasi bisnis dapat memberikan dampak baik ke ekosistem UMKM tersebut.”, ungkap Teddy. Kementerian Koperasi dan UKM RI menargetkan 30 juta UMKM Go Digital tahun 2024 mendatang menyusul kenaikan digitalisasi pada UMKM yang telah digitalisasi yaitu sebesar 21% sampai tahun ini.

Pihaknya sepakat keamanan transaksi digital harus terus dikembangkan untuk membangun customer trust sehingga angka kepercayaan pelanggan terhadap layanan finansial digital kian meninggi. Menutup gelaran webinar ini, Teddy merekomendasikan para UKM dan pelaku usaha untuk mampu untuk mengoperasikan ekosistem UMKM secara aman dan terlindung dari ancaman cyber yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Peraturan BI No. 22/20/PBI/2020 dimana segala bentuk kegiatan digitalisasi dilindungi oleh kepastian hukum, perlindungan data, aset konsumen, edukasi, dan literasi.

Sebagai perwakilan/ disposisi dari Johnny G. Plate yang berhalangan hadir, Dedy Permadi, selaku Staf Khusus Menteri Bidang dan SDM/Juru Bicara Kementerian Kominfo, memaparkan tiga hal penting yang menjadi concern pemerintah menanggapi ekonomi digital yang pesat saat ini maupun tahun-tahun mendatang :

  • Sektor ekonomi digital berpotensi besar menjadi faktor pendorong ekonomi utama untuk Indonesia di masa pandemi, data menyatakan adanya pertumbuhan YoY sekitar 10,58% di sektor infokom yang terkait langsung ke sektor ekonomi digital. Prediksi valuasi ekonomi digital di tahun 2025 akan mencapai 1700 triliun Rupiah. Terdapat tiga komponen aktif dalam ekonomi digital yaitu Internet, AI, dan Platform E-commerce.
  • Potret UMKM Indonesia 81% belum mengenal ruang digital dalam mengoptimalkan peluang bisnisnya. Peluang UMKM bertransformasi menjadi digital on board dapat menyumbang resiliensi UMKM di tengah pandemi. Hal ini didukung dengan adanya danya 35% kenaikan pengiriman barang di tahun 2021 terkait dengan penjualan online.
  • Apa yang harus UMKM lakukan untuk bertahan di marketplace? Data dari IDEA E-Commerce Marketplace mengatakan terdapat 75% UMKM sulit mempertahankan karakteristik dan layanan purna jualnya setelah masuk e-commerce. Maka hal tersebut menjadi concern pemerintah dan kita semua untuk memaksimalkan tahapan UMKM untuk tetap berdiri yaitu Onboarding, Active Selling, Scaling Up, Go International.

Penggunaan teknologi di ranah bisnis yang kian kompetitif menuntut para pelaku usaha untuk mengambil langkah hebat dalam beradaptasi pada penggunaan teknologi. Hal ini dalam rangka menunjang sistem operasi perusahaan yang efektif dan efisien guna memaksimalkan keuntungan perusahaan.

Tak hanya perusahaan top level saja, UKM di Indonesia turut berkompetisi dalam memenangkan pasar skala lokal dan mancanegara dengan teknologi, didorong oleh berbagai aspek di dalamnya seperti pemasaran digital, sistem pembayaran digital, layanan pelanggan virtual, dan lain sebagainya.

PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) ini merupakan pionir dalam pasar transaksi elektronis di Indonesia, khususnya penyedia jaringan infrastruktur bagi perbankan. Didirikan pada 10 Februari 2000, Artajasa menciptakan produk dan layanan transaksi pembayaran yang sangat fleksibel diaplikasikan di setiap level unit bisnis. Selain itu, Artajasa menjamin tingkat keamanan, integritas dan pemantauan yang tinggi untuk semua level dan jenis transaksi yang dioperasikan.