Gubernur Jabar Silahturahmi dengan Tokoh Agama

siaranjabodetabek.com – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melakukan kegiatan silahturami dengan tokoh agama dan masyarakat kota Depok. Tujuan diadakannya rangkaian kegiatan tersebut salah satunya adalah untuk menjaga tali solidaritas antar umat beragama khususnya di Kota Depok.

Disamping Gubernur Jawa Barat yang kerap dikenal dengan sebutan kang Emil, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Depok juga menjadi salah satu pihak yang menjadi narasumber dalam kegiatan itu.

“Harapan saya, FKUB ini diberikan suatu tempat permanen dalam upaya menjaga kerukunan umat beragama. Saya sebagai orang yang telah lebih dari 20 tahun berada di FKUB merasa bahwasannya kehadiran FKUB cukup menjawab persoalan-persoalan antar umat beragama yang terjadi disini.”

Pada kesempatan tersebut, perwakilan FKUB sempat menyinggung tentang survei yang pernah dilakukan oleh salah satu lembaga survei yang menyatakan bahwasannya Depok menjadi salah satu kota yang paling intoleran di Indonesia.

Sebagaimana hasil survei yang pernah dilakukan oleh Setara Institute pada awal bulan April 2022 ini. Indeks Kota Toleran (IKT) dinilai berdasarkan empat variabel, dan hasil survei menyatakan bahwa Kota Depok menjadi kota paling tidak toleran dengan skor paling rendah, yakni 3,577.

“Jadi kadang kita dari FKUB suka berpikir kenapa ada lembaga yang menyatakan Depok tidak toleran.” pungkas perwakilan FKUB itu. Rabu (28/09/2022).

“Padahal setiap terjadi persoalan-persoalan menyangkut agama, maka kita selalu mengambil langkah, kita membetuk kopdar secara bersama-sama dari masing-masing perwakilan agama, dan itu sudah kita buktikan dan sudah kita rasakan bersama-sama.” lanjutnya.

Pada kesempatan itu juga, perwakilan FKUB mengutarakan aspirasinya tentang pembangunan Rumah Sakit di Kota Depok dalam rangka membantu kaum dhuafa.

Selanjutnya, Perwakilan Majelis Ulama Indonesia Kota Depok juga membenarkan apa yang disampaikan oleh perwakilan FKUB itu, bahwa kota Depok hubungan antar umat beragama di Depok selama ini berjalan kondusif.
“Depok itu punya sejarah umat beragama yang sangat panjang, tidak seperti yang dikatakan survei. Karena sejarah umat beragama di kota depok cukup erat, dan selama ini kondusif.” jelasnya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyambut kegiatan antar umat beragama tersebut dengan cukup antusias yaitu diawali dengan sebuah pantun. Menanggapi isu yang terjadi di kota Depok, Ia menjelaskan bahwa terdapat perbedaan cara dalam berkomunikasi ke masyarakat sebelum dan setelah perkembangan teknologi saat ini.

“Dulu kita diberitakan hanya lewat koran, kita menjadi pasif. Pada saat kita diberitakan negatif kita tidak punya daya lawan yang memadai. Seiring waktu, semua dari kita punya haknya. Saya tidak punya media, tapi saya punya sosial media begitu juga dengan bapak-bapak sekalian.” kata Gubernur lulusan jurusan arsitek tersebut.

“Jadi kesimpulannya apa? Kebaikan-kebaikan dan program-program baik di kota Depok harus diviralkan.” tegasnya dalam menjawab curhatan-curhatan para tokoh agama tadi.

Ridwan Kamil mengatakan bahwa saat ini berita-berita negatif lebih cepat dikonsumsi, sebagaimana pengamatan dan pengalamannya bahwa terjadi perubahan pola informasi dimana postingan tentang prestasi Jawa Barat selalu mendapatkan komen jauh lebih sedikit dibandingkan ketika ia memposting sesuatu yang receh -dalam hal itu Ia mencontohkan fenomena fashion week yang lagi viral.

Dalam kesempatan itu, Ridwan Kamil juga memberikan tips bagi FKUB Kota Depok dalam mengatasi isu-isu survei yang ada.

“Jadi poin Saya. Satu, program-program tentang toleransi yang diceritakan tadi harus diviralkan dengan cara menyerahkan kepada tim-tim yang paham dalam sosial media.” Jelasnya.

Ia juga menyinggung bahwa saat ini dirinya memiliki ajudan yang selain bertugas sebagai protokoler, juga bisa mengurusi hal-hal yang berbau sosial media, sehingga segala kegiatan dapat di rekam.

“Jadi masukan saya, anggaran tenaga rohani yang ada tadi bisa dimanfaatkan untuk memberitakan berita dan prestasi-prestasi kota Depok.” Tegasnya singkat.

“Masukan saya yang kedua, FKUB bikin survei sendiri pak, jangan jadi objek. Kita buat survei sendiri, dan jika hasilnya bagus, tidak seperti apa yang diberitakan. Jadi Bapak punya benteng pertahanan.” Sarannya.

Ia turut memberikan apresiasi besar terhadap program-program toleransi Kota Depok, juga memberikan sedikit cerita bahwa terdapat banyak negara muslim tetapi saling bersiteru. Tetapi Indonesia dengan Pancasilanya sudah sangat pas. Bahwa segalanya telah diberi ruang.

“Itulah yang membuat kita sampai saat ini selamat”. Singkatnya.

Gubernur Jawa Barat itu menutup kegiatan dengan menitipkan pesan bahwa justru yang suka memisahkan adalah Politik. Dimana setiap lima tahun sekali, setelah selesai berpolitik sudah seharusnya saling berdamai. Ia beranggapan bahwa seharusnya politik seperti kompetisi olahraga. Dimana pada saat kompetisi saling menjegal dan bersaing, tetapi setelah pembagian medali semua sudah harus saling bersalaman.

683 views