Komunikolog Emrus Sihombing : Rocky Gerung Sudah Kebablasan di Era Demokrasi

- Penulis Berita

Rabu, 2 Agustus 2023 - 22:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siaranjabodetabek.com- Komunikolog Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan diksi “Bajingan-Tolol yang utarakan Rocky Gerung kepada Presiden Joko Widodo telah kebablasan di era denokrasi saat ini.

Hal tersebut dikatakan Komunikolog Emrus Sihombing saat berdialog di TVRI rabu 2/8/2023.

Menurutnya, Indonesia menganut demokrasi yang berasaskan nilai Pancasila. Di dalamnya ada kata kemanusiaan yang adil dan beradab, sehingga demokrasi yang kita akui adalah demokrasi yang beradab.

Keberadaban sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang ada di Indonesia termasuk etika, kesopanan dan menghargai orang lain, ujar Emrus.

“Saya melihat ada diksi yang muncul akhir pekan ini yang tidak tepat, inilah contoh demokrasi yang kebablasan seperti adanya diksi ‘bajingan-tolol’. Tentunya apa yang disampaikan dengan diksi itu sama sekali tidak pas”, tutur Konunikolog UPH.

Ditambahkannya, kita harus pisahkan antara kritik yang produktif dan kritik yang dibungkus dengan agenda.

Saya melihat Rocky Gerung kalau saya pelajari rekam jejaknya di dunia digital, dia kerap mengungkapkan kritik tidak produktif ke Presiden Jokowi, jelasnya.

Dari sudut ilmu komunikasi tentunya pesan tersebut sangat tidak tepat, penerapan ilmu pengetahuan tidak boleh lepas dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, di relasi antar manusia, pungkasnya.

Di dalam komunikasi, pesan komunikasi yang disampaikan tidak ada yang bebas, harus terikat dengan nilai-nilai tertentu, ucap Emrus.

Kemudian Emrus mengatakan bahwa diksi ‘Bajingan-Tolol’ itu adalah bentuk dari ungkapan persahabatan, apakah Presiden Jokowi ada di situ, padahal itu adalah ruang publik dan yang hadir di situ adalah orang lain. Sehingga kalau dikatakan itu adalah ungkapan persahabatan, saya membantah itu dari sudut semiotika komunikasi.

Saya berpendapat bahwa itu adalah merendahkan orang lain. Bukan hanya Presiden Jokowi, namun dia juga merendahkan para pemirsanya dan merendahkan dirinya sendiri. Padahal dalam konumikasi hendaknya kita harus berposisi egaliter dan ada kesetaraan, ujar Dosen Pasca Sarjana UPH.

Diksi-diksi yang dibangun oleh Rocky Gerung selama ini memposisikan bahwa dirinya superior dan orang lain inferior, orang lain lebih rendah dari dirinya, tegasnya.

Menurut Emrus, selama ini dia juga terus mencari pembenaran, padahal dalam KBBI, arti dari ‘bajingan’ adalah penjahat, apakah itu layak untuk ditujukan kepada Kepala Negara?.

Dari sudut komunikasi, hendaknya bisa mengemukakan fakta, data, dan kelemahannya, jangan sampai menyebut nama orangnya. Sebut saja programnya. Tetapi ketika sudah terucap kata ‘tolol’, itu sudah personal kan, tidak baik itu, jelas Emrus.

Saya melihat bahwa ketika UU ITE dipakai, maka sangat berpeluang Rocky Gerung untuk diproses di pengadilan, dan nanti akan berdebat di situ para pakar dan para ahli yang diajukan oleh para jaksa dan para pengacara pembela Rocky Gerung, ungkapnya.

Selain itu juga, kita bisa melakukan survey kepada masyarakat ‘menurut anda apakah kata Bajingan itu sebagai sesuatu yang tidak etis?’ bisa kita survey, imbuh Emrus.

Kritik yang dilakukan oleh Rocky Gerung sangat diluar adab dan sudah Kebablasan, tegas Emrus.

Menurut Emrus kita harus bisa bedakan keterbukaan komunikasi, tetapi kita tidak setuju dengan keterbukaan yang mendiskreditkan orang lain.

Maksud dari keterbukaan adalah terbuka tentang fakta, data dan bukti. Bukan berarti kita memberikan ungkapan yang memposisikan orang lain tidak nyaman, karena manusia ketika berkomunikasi dengan orang lain tidak lepas dari nilai tertentu. Karena itu setiap negara memiliki landasan dan nilai yang digunakan, tuturnya.

Saya beranggapan bahwa apa yang disampaikan oleh Rocky Gerung ini sangat tidak baik, apalagi sekarang dia melakukan pembenaran, padahal apabila dicek makna di balik itu dengan narasi dan konteks dia berkomunikasi, selain itu tidak ada Presiden Jokowi di sana kalau dikatakan itu persahabatan, maka itu adalah pembelaan diri, pungkasnya.

“Dia lupa dalam pesan komunikasi, lambang dan makna itu bisa berubah. Jadi makna itu jangan semakna-makna dilihat dari historicalnya, namun harus dilihat pergeresan makna dan konteks komunikasinya, ucapnya.

Saya melihat konteks komunikasi yang dilakukan Rocky Gerung di situ sama sekali tidak ada konteks persahabatan, ujar Emrus.

Emrus menyatakan bahwa ini adalah pesan komunikasi yang dilakukan Rocky Gerung dengan tidak produktif dan yang paling bahayanya adalah dalam konteks pendidikan, apakah pesan seperti itu adalah pesan pendidik? Padahal dia berprofesi sebagai pendidik.

Saya melihat dalam akun itu sudah diakses oleh lebih dari 1 juta orang, kalau diikuti oleh penonton dan ditiru, maka jelas saja itu tidak bagus, tuturnya

“Saya kira tidak salah agar Rocky Gerung meminta maaf kepada publik dan kepada Presiden Jokowi. Apa yang dikatakannya itu sudah offside, keterlaluan dan pesan yang tidak beradab”,ujarnya.

Kita sudah memilih negara kita adalah negara demokrasi, salah satu kriterianya adalah kebebasan berpendapat, namun dalam kebebasan tersebut bukan tanpa batas, melainkan pasti ada nilainya karena paling tidak ada norma yang kita hormati bersama dan dibentuk di dalam suatu masyarakat karena sesungguhnya makna dari suatu simbol adalah makna sosial, sehingga kita memaknai sesuatu karena proses sosial yang terjadi, tutup Emrus.

Berita Terkait

Ciliwung Cisadane Salurkan Pompa Alkon untuk Atasi Kekeringan Lahan Pertanian di Tangerang
Mahkamah Konstitusi Nyatakan Gugatan Ijazah Wapres Gibran Tidak Dapat Diterima, Perkara Resmi Selesai
Mahkamah Konstitusi Gelar Sidang Pembacaan Putusan PHPU Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2024
Supian Suri Dorong Metode Gasing Diperluas ke Sekolah di Depok
Pelajar SMAN 21 Jakarta Ciptakan O2H, Teknologi Ubah Kelembapan Udara Jadi Air
Aksi Konyol Maling Motor di Pancoran Mas Depok: Alih-alih Dinyalakan, Motor Curian Malah Digotong Berdua
Galeri Indonesia Kaya Rayakan Ulang Tahun ke-13, Hadirkan Pertunjukan Seni Spesial Gratis untuk Publik
Prabowo Lantik Wantimpres: Menariknya Formasi Baru yang Satukan Rocky Gerung dan M. Qodari

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 22:18 WIB

Dana RW Rp300 Juta Bukan Sekadar Bangun Jalan! RW 10 Kelurahan RJB Pancoran Mas Kota Depok Depok Pilih Mobil Siaga, Ini Alasannya

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Al Siddiq International School Pondok Gede Bekasi Hadirkan Pembicara Parenting Alumni Gontor Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Minggu, 11 Oktober 2026 - 11:07 WIB

Rasakan Banyak Manfaat, Warga Sukatani Tapos Ingin Wisata Keberagaman terus Berlanjut

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:25 WIB

Ogah Ribet, RW Baktijaya Minta Dana Rp300 Juta Masuk Skema Hibah

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:16 WIB

SMA Perguruan Rakyat 3 Gelar Kegiatan LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) Bersama Dirgantara Outbond Training (DOT) Tahun 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 08:17 WIB

Pelatihan Gasing di Depok Soroti Mental Siswa Saat Belajar Matematika

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:20 WIB

SMP Insan Kamil Cikarang Gelar Parenting Bagi Orang Tua Tentang “Membaca Hasil Potensi Anak Melalui Test PRIMAGEN” Bersama Dr Awaluddin Faj, M.Pd

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Aksi Konyol Maling Motor di Pancoran Mas Depok: Alih-alih Dinyalakan, Motor Curian Malah Digotong Berdua

Berita Terbaru

berita depok

Ogah Ribet, RW Baktijaya Minta Dana Rp300 Juta Masuk Skema Hibah

Sabtu, 10 Okt 2026 - 08:25 WIB