Ngerahul 3

- Penulis Berita

Selasa, 30 April 2024 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUNDUNG

Oleh: Syamsul Yakin

Penulis Buku “Milir”

Hari ini orang kampung Parung Bingung, barangkali, hanya sehitung jari yang masih punya sundung. Sejatinya punya sundung meniscayakan seseorang punya tanah agak lebar. Sebab selain rumah, harus berdiri juga di tanah tersebut kandang kambing, sampi, atau kerbau. Artinya punya sundung hari ini termasuk kategori orang berada. Mana ada orang punya sundung tapi tidak punya piaraan.

Dulu, kalo anak muda mikul sundung jadi bahan ejekan mereka yang sudah naek sepeda. Sebab sundung identik dengan keterbelakangan. Namun beda kalo hari ini banyak orang ngarit alias nyari rumput pada bawa sepeda. Bahkan mendekati Idul Adha, banyak mobil bak terbuka berseliweran mengangkut rumput. Inilah sundung Jepang yang sudah menggantikan fungsi sundung bambu.

Punya sundung meniscayakan seseorang punya parang, bisa ngarit, dan memikulnya ke rumah. Sepanjang yang saya ingat, sejak bocah saya termasuk yang tidak kuat memikul sundung dengan muatan ful, kiri dan kanan. Pasalnya, saya tidak terbiasa mikul yang berat. Karena saya memang tidak punya sundung. Artinya saya tidak bisa ngarit. Tidak punya kambing apalagi sampi.

Namun pada saat kecil, seringkali siang hari saya habiskan waktu mandorin tukang ngarit. Saya memang resep banget ngeliat orang ngarit, apalagi kalo parangnya tajam. Saya membayangkan saat itu, ngarit sangat mudah, hanya mengayunkan tangan, meraup rumput dan memasukkannya ke sundung. Namun saat saya mencobanya berkali-kali hingga hari ini, saya tidak bisa.

Ada tiga pekerjaan yang saya tidak bisa melakukannya. Pertama, ngampak kayu. Kedua, belah kelapa. Ketiga, tadi itu: ngarit. Saya ketar-katir ketika ada orang Parung Bingung bilang bahwa syarat ngelamar anak orang nanti yang tiga itu. Mungkin benar pada zaman baba atau engkong saya. Pada zaman saya, tidak pernah calon mertua minta saya mempraktekkan kemampuan ngarit, ngampak, dan belah kelapa.

Tukang ngarit biasanya kurang peduli kalo diajak ngobrol. Dia terus saja ngarit. Dia lebih banyak dengerin. Kalaupun dia bicara, dilakukan sambil ngasah parang yang sudah mulai majal. Namun sesudah itu, ia kembali ngarit lagi. Apalagi kalau di langit udara mulai megu. Dipercepat ngaritnya. Mungkin karena takut kebandilan hujan. Umumnya, kambing kurang suka rumput basah. Beda dengan kambing Jawa, apa ajah dimakan, termasuk daon nangka.

Tapi saya punya cara, supaya tukang ngarit bisa diajak ngobrol. Pertama, saya ajak nyari pepaya mengkel. Walaupun pepaya itu di lahan orang. Terdorong haus, biasanya dia berenti ngarit lalu mengambil pepaya yang saya tunjukkan, lalu kita gado berdua. Pepaya itu diiris pake parangnya yang tajam memutih. Kedua, saya ajak nyeritain pelem layat tancep. Terutama pelem yang dia belum pernah nonton. Jadilah kita ngobrol ngalor ngidul.

Hingga hari ini saya belum tahu arti kata sundung. Termasuk, orang mana yang pertama kali memakainya.

Namun yang pasti sundung telah mengisi memori saya dan sebagian orang seperti saya yang sering maen di sawah dan bulakan. Saya pernah memikul sundung dengan beban yang saya kuat, walau kadang-kadang sering diledekin teman-teman saya. Namun saya tetap girang karena bisa memikul sundung. Anda pernah memikul sundung?

Kawan saya yang bisa ngarit, punya piaraan, saat ini jadi orang sukses. Ada yang jadi sarjana, ustadz, dan pegawai negeri. Ternyata memikul sundung dan bisa ngarit berbuah manis di saat dewasa, kendati saya yakin hari ini tidak satupun di antara mereka yang masih punya sundung. Tak berlebihan kalau sundung seharusnya dijadikan pajangan, buat kenang-kenangan. Bisa juga untuk cagar budaya. Saya tanya, Anda masih punya sundung?*

Berita Terkait

Presiden Komisaris PT Mustika Ratu Tbk : Kawal Tata Kelola dan Keberlanjutan Korporasi Menuju Pasar Global
Pelatihan AI GP Ansor Depok Disambut Antusias, Yuni Indriany: Anak Muda Harus Jadi Pencipta Teknologi
Pengajian Al-Hikam Jadi Ruang Refleksi Pembangunan, Rohmat Rospari: Mari Menilai Secara Utuh
Di Pengajian Al-Hikam, Wali Kota Depok Supian Suri Pastikan Tak Ada Anak Putus Sekolah
Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan
Supian Suri Tegaskan Pendidikan Jadi Prioritas, KuduSS Ramah Siap Kawal Program Kerakyatan Pemkot Depok
Rohmat Rospari Gagas Fiqh Lingkungan untuk Kemajuan Depok, Sekretaris Dinas Pendidikan Nilai Layak Diterapkan di Sekolah
Milad 10th Pergerakan PRIMAGO, 1 Dekade Tumbuh Berkembang dan Bermanfaat Tanpa Batas
Tag :

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 13:52 WIB

Presiden Komisaris PT Mustika Ratu Tbk : Kawal Tata Kelola dan Keberlanjutan Korporasi Menuju Pasar Global

Minggu, 26 Juli 2026 - 21:46 WIB

Pelatihan AI GP Ansor Depok Disambut Antusias, Yuni Indriany: Anak Muda Harus Jadi Pencipta Teknologi

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:56 WIB

Pengajian Al-Hikam Jadi Ruang Refleksi Pembangunan, Rohmat Rospari: Mari Menilai Secara Utuh

Minggu, 26 Juli 2026 - 20:30 WIB

Di Pengajian Al-Hikam, Wali Kota Depok Supian Suri Pastikan Tak Ada Anak Putus Sekolah

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:37 WIB

Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:46 WIB

Rohmat Rospari Gagas Fiqh Lingkungan untuk Kemajuan Depok, Sekretaris Dinas Pendidikan Nilai Layak Diterapkan di Sekolah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:16 WIB

Milad 10th Pergerakan PRIMAGO, 1 Dekade Tumbuh Berkembang dan Bermanfaat Tanpa Batas

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:15 WIB

Primagen Genetic Mapping Program Sosialisasikan Program Pemetaan SDM & Pengembangan Minat, Bakat dan Potensi Diri Santri di Pondok Pesantren Daarul Muttaqien Parung Bogor

Berita Terbaru