OVALENZ: Mencari Pendengar Di Era Digital

siaranjabodetabek.com – OVALENZ grup musik yang berdiri pada tahun 2002 di Kota Surabaya. Menurut informasi dari Rima Riandiani selaku vokalis dari OVALENZ, mereka memulai debutnya di album pertama yakni, “It’s About The Beginning” pada tahun 2008.

OVALENZ merilis dalam bentuk format CD dengan sistem pemasaran Indie tanpa label. “Jadi kami rilis pada saat itu mandiri banget, dengan format fisik CD,” ucap Rima.

Ryan Zanuardi juga menambahkan, bahwa salah satu hitsnya mereka waktu itu yaitu lagu “Lepaskan”. “Lagu ini juga banyak kita bawain pada saat kita ikut ajang festival dan kebetulan banget gara – gara “Lepaskan” ini juga kami bisa merasakan panggung – panggung di luar Surabaya, kemudian masuk di kompilasi Nasional “A Mild Import” juga, yang akhirnya lagu ini banyak di cover oleh teman – teman band di luar Surabaya,” sahut Ryan.

Pada saat perjalannya, sudah banyak perubahan personil yang bergantian masuk dan keluar silih berganti. Namun uniknya, pada tahun 2018 OVALENZ sempat membuat inovasi dengan membuat formasi personel yang memainkan musik dengan konsep tradisional . Namun, impian itu harus pupus ditengah jalan akibat adanya pandemi COVID-19.

Rima mengatakan, Kemudian ada pandemi seketika aktivitas manggung jadi off semua. “Kita jadi bingung mau ngapain yang musisi ini, teman – teman personil juga tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya hanya, saya (Rima) dan Ryan di Gitar, dan kami mulai berpikir apa yang tetap bisa kami lakukan ditengah segala macam akivitas yang sangat terbatas ini? Ya akhirnya kita switch channel Ovalenz yang tadinya hanya untuk showcase musical works kita, menjadi channel tutorial yang tetap dengan ‘niche’ yang sama yaitu music,” jelas Rima.

Selain itu, yang kami bawa adalah bagaimana menjadi DIY musician di era digital ini, dari mulai bagaimana karya ini bisa ada di platform – platform musik digital tanpa perantara Label, setelah rilis apa saja yang harus kita lakukan, sampai bagaimana musik kita ini bisa menghasilkan royalti dan dari mana royalit ini bisa di dapatkan, banyak istilah di musik yang kita bahas disana yang ternyata banyak banget teman – teman musisi indie belum memahami, mulai dari apa itu aggregator, apa itu publisher apa itu PRO/CMO atau LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) kalau di Indonesia, dan bagaimana mengintegrasikan semua itu menjadi sebuah kesatuan yang akan mengalirkan royalti kita sebagai musisi sekaligus mengamankan karya – karya kita”kata ucap wanita asli Kota Pahlawan tersebut.

DARI BUAT TUTORIAL HINGGA DITEMUKAN PENDENGAR

Rima menyadari, bahwa langkahnya mendapatkan respon yang positif dan antusias dari banyak kalangkan. Ia mengungkapkan, banyak juga yang minta dibuatin grup dan kita bikin namanya OVALENZ juga di telegram, agar bisa akses dan tanya – tanya langsung perihal digital distribution ke kami, terutama pengguna aggregator Tunecore.

“Karena di tutorial kami memang banyak membahas Tunecore karena OVALENZ juga pengguna Tunecore ini, dan menurut kami Tunecore salah satu aggregator yang cukup recommended,” kelakar Rima sambil memberi kode ucapannya bukanlah sebuah endrose dari salah satu pihak sambil tertawa.

Mereka berdua ternyata juga tidak menyangka bahwa apa yang mereka lakukan mendapatkan efek samping yang membahagiakan untuk channel YouTubenya. Rima mengatakan bahwa sesuatu hal yang dilakukannya itu membuat semakin optimis. ”Jadi yang tadinya hanya membawakan tutorial saja kemudian channel OVALENZ ini keisi jam tayang, dan alhamdulillah di bulan Agustus 2023 ini channel kami akhirnya monetize, dan kebetulannya lagi dapat banyak apresisi juga untuk karya – karya kami, banyak juga dapat pendengar baik di Indo maupun di luar Indo,” ungkapnya.

Di sisi lain, salah satu karya OVALENZ yang mereka rilis Januari 2023 “Melangkah Lagi” diluar dugaan juga sempat masuk chart Ganas Gen FM itu sampai sekarang streamingnya di platform musik juga masih jalan. Rima dan Ryan rupanya mempelajari betul potensi-potensi yang terjadi di era digital saat ini.

Mereka juga menyakini bahwa dengan dimudahkannya segala akses, dari mulai perilisan, pitching lagu, promo ads, an sebagainya, setiap musisi memiliki peluang untuk ‘ditemukan’ oleh penggemarnya secara spesifik, dengan mesin – mesin pencari DSP (Digital Music Platform) sudah sangat canggih untuk bisa membaca aktivitas pendengar di akun mereka dan secara otomatis memberikan suggest musik – musik baru sesuai selera mereka.

Disini Rima berpendapat, bahwa tinggal bagaimana kita sebagai musisi menjadi lebih peka untuk membaca analitik dan mengambil strategi bagaimana membuat karya – karya kita berikutnya, kita jadi tidak buta lagi nih. Sehingga menurutnya ada banyak data yang mereka sajikan untuk kita memprogres karya musik kita menuju market yang kita inginkan.

Pada akhirnya, menurut vokalis yang memiliki suara vokal ciamik ini, berharap semoga teman – teman musisi sudah waktunya untuk mulai menyempatkan diri merapikan katalog – katalog musiknya, baik itu dari sisi komposisi maupun hasil rekaman. Selain itu dia juga mengatakan, off air memang harus dikejar, seperti kata guru kami, “jika panggung adalah hujan deras, yang tidak sering, digital musik adalah gerimis yang terus menerus,” pungkasnya.

News Feed