Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan penolakan keras untuk menarik pasukannya “satu milimeter pun” dari wilayah tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah dimulainya fase kedua gencatan senjata yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Rabu (18/2/2026). Sesuai kesepakatan, fase ini mewajibkan Hamas melucuti persenjataan sementara Israel harus menarik mundur pasukannya secara bertahap.
Namun, Israel Katz menegaskan bahwa keberadaan Hamas beserta infrastruktur militernya tidak akan ditoleransi lebih lama lagi. Pemerintah Tel Aviv memberikan tenggat waktu 60 hari bagi Hamas untuk menyerahkan senjata, atau mereka mengancam akan kembali melanjutkan operasi militer secara penuh. Selain fokus pada isu Gaza, Kementerian Pertahanan Israel juga meluncurkan inisiatif “Perisai Israel” dengan tambahan anggaran sebesar 350 miliar Shekel untuk memperkuat kemandirian produksi senjata dalam negeri selama dekade mendatang.
”Kami tidak akan pernah membiarkan Hamas tetap eksis, baik itu dengan senjata maupun jaringan terowongannya. Slogannya sangat jelas: kami akan terus bergerak hingga terowongan terakhir dihancurkan. Pasukan kami tidak akan bergeser dari Garis Kuning satu milimeter pun sampai Hamas benar-benar bersih dari senjata dan infrastruktur militer lainnya. Tidak ada keamanan tanpa ekonomi, dan tidak ada ekonomi tanpa keamanan.” Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel.








