DEPOK – Sebelum chatbot pintar dan Artificial Intelligence (AI) generatif ramai dipakai untuk bantu tugas sekolah hingga urusan pekerjaan seperti sekarang, pengguna komputer jadul pasti sudah tak asing dengan karakter penjepit kertas mungil bermata besar bernama Clippy. Karakter ikonik besutan Microsoft ini kerap dianggap sebagai “mbahnya” asisten digital, sekaligus awal dari perjalanan panjang perkembangan teknologi pintar yang kita nikmati hari ini.
Kehadiran Clippy kembali diulas oleh tim Depok Saber Hoaks melalui platform edukasi digitalnya. Unggahan tersebut mengajak publik untuk bernostalgia sembari memahami bagaimana teknologi kecerdasan buatan berevolusi dari masa ke masa.
Melalui ulasannya, tim Depok Saber Hoaks menjelaskan perjalanan panjang asisten digital ini.
“Sobat Depok, sebelum chatbot dan AI generatif hadir, Microsoft sudah memperkenalkan asisten digital lewat Clippy. Meski sederhana, Clippy menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju teknologi asisten yang semakin cerdas. Dari penjepit kertas yang suka bertanya, hingga AI yang kini bisa berdiskusi dan membantu pekerjaan, teknologi terus berkembang,” tulis tim Depok Saber Hoaks dalam unggahannya.
Beda Clippy Dulu dan AI Modern Sekarang
Bagi masyarakat yang sempat mengalaminya, Clippy kerap bikin gemas sekaligus agak jengkel. Pasalnya, Clippy bekerja memakai sistem berbasis aturan statis (rule-based). Sistem ini membuat Clippy hanya merespons pemicu kata kunci tertentu saja. Sebagai contoh, saat pengguna menulis kata “Dear” di awal dokumen, Clippy akan otomatis muncul dan menawari template surat, tanpa benar-benar memahami konteks kalimat yang sedang dibuat. Alhasil, saran yang diberikan sering kali kurang relevan dengan kebutuhan pengguna.
Kondisi tersebut sangat berbeda dengan lompatan teknologi AI modern saat ini. Generasi asisten digital masa kini sudah disokong oleh Large Language Models (LLM) yang tidak lagi terpaku pada aturan kaku. AI zaman sekarang mampu memahami konteks, menangkap instruksi bahasa manusia yang rumit, hingga membantu membuat esai, merangkum data, bahkan menulis kode pemrograman dari nol.
Melalui edukasi nostalgia ini, masyarakat diajak untuk melihat bahwa teknologi canggih yang memudahkan kehidupan saat ini tidak lahir begitu saja, melainkan hasil dari inovasi berkelanjutan yang terus disempurnakan dari era penjepit kertas sederhana hingga asisten digital tanpa batas.










