Kebijakan kontroversial muncul dari Kuil Gangotri di kawasan Himalaya, India. Pihak otoritas kuil kini mewajibkan setiap pengunjung untuk mengonsumsi panchgavya, sebuah ramuan ritual yang terdiri dari lima unsur turunan sapi, termasuk susu, dadih, ghee, madu, dan urin sapi. Aturan ketat ini diberlakukan sebagai syarat mutlak bagi siapa pun yang ingin memasuki area suci kuil tersebut.
Langkah ini diambil sebagai bentuk penyaringan guna memastikan bahwa hanya penganut Hindu sejati atau kaum “Sanatani” yang dapat mengakses tempat ibadah tersebut. Panitia kuil menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mencegah masuknya individu non-Hindu yang mungkin menyamar atau tidak memiliki keyakinan spiritual yang selaras dengan tradisi setempat.
Dharmendra Semwal, perwakilan dari panitia kuil, menegaskan bahwa ritual ini tidak akan menjadi beban bagi mereka yang memiliki iman yang kuat. Ia percaya bahwa konsumsi ramuan tersebut justru merupakan sebuah keberuntungan spiritual bagi para peziarah.
“Ini untuk mencegah orang-orang non-Sanatani dan non-penganut agama Hindu memasuki kuil Gangotari. Orang-orang yang beriman sejati tidak akan mengalami masalah dalam mengonsumsinya. Hanya mereka yang masuk dengan menyamar dan tidak memiliki keyakinan pada agama tersebut yang akan mengalami masalah,” tegas Semwal.
Penerapan aturan baru ini dilakukan bertepatan dengan dimulainya ziarah tahunan Char Dham Yatra yang menarik jutaan umat ke wilayah pegunungan tersebut. Meski memicu pro dan kontra di jagat maya, petugas di pintu masuk tetap bersiaga menyediakan “air suci” tersebut kepada para pengunjung. Kebijakan ini sekaligus menjadi pembeda, mengingat sebagian besar kuil di India biasanya bersikap lebih terbuka bagi wisatawan umum maupun non-penganut Hindu.








