Presiden AS Donald Trump dilaporkan mulai kewalahan menghadapi biaya perang yang membengkak dan tekanan politik domestik. Meski Trump telah secara sepihak memperpanjang masa gencatan senjata, pihak Teheran justru menunjukkan sikap dingin. Iran menegaskan tidak akan duduk di meja perundingan selama blokade angkatan laut AS di wilayah mereka belum dicabut sepenuhnya.
Situasi ini menjadi “buah simalakama” bagi Trump yang dulu berkampanye untuk menghentikan keterlibatan militer AS di luar negeri. Namun, langkah diplomasi yang coba dibangun melalui Wakil Presiden JD Vance di Pakistan justru menemui jalan buntu setelah Iran secara tegas menolak hadir. Pakar menyebut Iran tidak sedang berada di ambang kehancuran, sehingga mereka merasa punya posisi tawar yang kuat untuk menekan balik Washington.
Menanggapi situasi yang semakin buntu ini, Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, memberikan pandangannya terkait posisi sang Presiden. Menurutnya, langkah Trump memperpanjang gencatan senjata adalah upaya untuk berhenti “menggali lubang” kegagalan yang lebih dalam.
”Dia sebenarnya bisa saja semakin nekat dan terlibat dalam aksi militer yang lebih gegabah. Tetapi sejauh ini dia telah berhenti menggali lubang yang lebih dalam untuk dirinya sendiri,” ujar Vatanka.
Hingga saat ini, stabilitas ekonomi global pun ikut terancam akibat ketegangan di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga BBM. Trump kini hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk memutuskan apakah akan melakukan deeskalasi total atau justru terseret lebih jauh ke dalam konflik yang menurut para analis, harganya hanya akan semakin mahal bagi Amerika.








