Siaran Jabodetabek – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan sempat kehilangan kendali emosi setelah menerima laporan jatuhnya jet tempur F-15 milik AS di wilayah Iran pada momen Jumat Agung lalu. Ketegangan memuncak saat diketahui dua pilot jet tersebut hilang, memicu kekhawatiran mendalam di Gedung Putih. Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Trump disebut berteriak kepada para ajudannya selama berjam-jam di tengah upaya misi penyelamatan yang berisiko tinggi.
Situasi di dalam pusat pemerintahan AS dilaporkan sangat kacau hingga tim kepresidenan harus mengambil langkah ekstrem untuk menjaga stabilitas operasi. Para ajudan senior, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Susie Wiles, memutuskan untuk tidak menyertakan Trump dalam pertemuan krusial di Ruang Situasi guna menghindari gangguan akibat ketidaksabarannya. Trump hanya diberi informasi pada saat-saat penting tanpa terlibat langsung dalam proses pemantauan teknis yang sedang berjalan.
Seorang pejabat senior pemerintahan mengungkapkan bahwa ledakan emosi Trump dipicu oleh trauma sejarah terkait hubungan AS-Iran. “Gambaran krisis sandera Iran tahun 1979, salah satu kegagalan kebijakan internasional terbesar sebuah kepresidenan dalam beberapa waktu terakhir, terus menghantui pikirannya,” ungkap pejabat tersebut. Ia menambahkan bahwa para ajudan sengaja menjaga presiden agar tidak masuk ke ruangan saat informasi diperbarui setiap menit karena meyakini bahwa emosinya tidak akan membantu situasi.
Meskipun laporan mengenai “tantrum” ini beredar luas, pihak Gedung Putih tetap memberikan pembelaan melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt. Leavitt menegaskan bahwa Trump tetaplah sosok pemimpin teguh yang dibutuhkan Amerika Serikat dalam menghadapi rezim Teheran. Diketahui, misi penyelamatan akhirnya berhasil mengevakuasi kedua kru jet tempur tersebut dengan selamat setelah salah satu kru sempat terjebak lebih dari 24 jam di wilayah musuh.








