SiaranJabodetabek – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kini menghadapi tekanan politik hebat di dalam negeri menyusul serangan gabungan AS-Israel ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran. Perang yang berkecamuk sejak akhir pekan lalu ini tidak hanya memicu ketegangan militer, tetapi juga melahirkan “musuh” baru bagi Trump: lonjakan harga bensin dan inflasi energi yang mencekik warga Amerika.
Sejumlah analis ekonomi memperingatkan bahwa kenaikan harga bahan bakar di SPBU akan terjadi dalam hitungan hari, menyusul penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pasokan minyak dunia. Kondisi ini diprediksi akan mengganggu belanja konsumen yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi AS, tepat di saat negara tersebut mendekati pemilihan paruh waktu.
”Harga bensin sebenarnya sudah perlahan tapi pasti meningkat sejak awal Januari. Namun, para pengecer biasanya akan bergerak sangat cepat untuk menanggapi setiap perkembangan konflik yang mendorong harga lebih tinggi di pasar global,” ungkap Analis Utama Oxford Economics, John Canavan.
Kenaikan ini diperkirakan tidak hanya berhenti di sektor energi, tetapi akan merembet ke kenaikan tarif penerbangan, biaya logistik, hingga tagihan listrik domestik akibat dinamika pasar internasional yang tidak stabil.








