SiaranJabodetabek – Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara resmi menyatakan bahwa Teheran memilih untuk menempuh jalur diplomasi dan dialog dalam menghadapi ketegangan yang kembali memuncak dengan Amerika Serikat. Langkah ini diambil sebagai respons strategis di tengah ancaman tindakan militer yang baru-baru ini dilontarkan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Pezeshkian menegaskan bahwa dialog selalu menjadi strategi utama Iran untuk mencapai solusi damai dan menjaga stabilitas di kawasan Timur Tengah. Melalui pernyataan di media sosial, ia menyampaikan bahwa pendekatan Iran terhadap isu nuklir tetap berpegang teguh pada hak-hak yang dijamin dalam Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).
Terkait tekanan dari Gedung Putih, pemimpin Iran tersebut menekankan prinsip kesetaraan dalam berhubungan dengan negara lain. Pezeshkian menyatakan bahwa negaranya akan menanggapi rasa hormat dengan rasa hormat, namun secara tegas menolak segala bentuk komunikasi yang menggunakan bahasa kekerasan atau intimidasi militer.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai dimulainya kembali diplomasi nuklir tidak langsung di Muscat, Oman, sebagai awal yang positif untuk mencairkan suasana. Meskipun komunikasi mulai terbuka, Araghchi menegaskan bahwa program rudal Iran bersifat non-negosiabel karena merupakan pilar pertahanan kedaulatan negara.
Proses negosiasi ini diharapkan dapat berlanjut apabila kedua belah pihak mampu mengatasi jurang ketidakpercayaan yang selama ini menghambat hubungan kedua negara. Ke depannya, Iran dan AS dijadwalkan akan kembali bertemu di Oman guna mencari jalan tengah atas konflik yang kian memanas di awal tahun 2026 ini.








